Tuesday, April 1, 2014

MAKASSAR RAYA : KASUS KORUPSI PAJAK BBM SUBSIDI MANDEK



SATU tahun dalam proses penyelidikan, kasus korupsi penyimpangan pajak bahan bakar minyak (BBM) subsidi yang diduga mengalir Ke Kas Daerah Pemerintah Provinsi Sulsel dan ke kas sejumlah Pemerintah Kabupaten/Kota di Sulsel tak jelas penyelesaianya. Bahkan belakangan kasus yang awalnya gencar digenjot ini terkesan mandek alias kabur kembali.
Direktur Anti Corruption Committee (ACC) Sulsel, Abdul Muthalik, mengatakan bahwa Kejati Sulsel seharusnya memeriksa semua pihak di Kantor Pajak yang diduga mengetahui potongan serta aliran dana tersebut. Kasus ini jelas melibatkan pejabat-pejabat Perpajakan, makanya Kejati harus menuntaskan kasus ini, dan Kejati jangan hanya diam saja. “Ini kasus serius dan menyangkut kepentingan orang banyak,” tegas Muthalib, sambil menambahkan, kasus ini harus diungkap mengingat penyimpangan yang bermodus pajak ini cukup besar nilainya, bisa sampai triliunan rupiah. Salah satu contoh terjadi di Kota Parepare, wajib pajak diminta membayar pajak yang dilaporkan sebagai dugaan pelanggaran administrasi.
Tim penyelidik bagian kasus pidana khusus Kejati Sulsel memang tengah mengusut adanya dugaan penyimpangan pajak bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi yang mengalir ke Kas Daerah Pemerintah Provinsi Sulsel dan ke Kas Pemerintah Kabupaten/Kota di Sulsel. Kasus pajak tersebut diendus mulai dari tahun 2010 hingga 2013. Kejati juga telah melakukan pengumpulan data serta bahan keterangan (PULBAKET) soal besarnya pajak bahan bakar subsidi yang masuk ke Kas Daerah. Pajak bahan bakar bersubsidi yang diketahui 5 persen itu kemudian dibagi lagi ke Kabupaten/Kota dengan rincian 70 persen ke Kas Daerah Provinsi dan 30 persen ke Kas Daerah Kabupaten/Kota. Nilainya sangat basar, hingga miliaran rupiah.
 Pajak BBM bersubsidi itu cukup besar. Pemkot Makassar saja dari pajak BBM bersubsidi bisa dapat Rp 3,9 miliar per bulan. Pendapatan yang bersumber dari pungutan terhadap Pertamina yang popular disebut pajak bahan bakar kendaraan bermotor (PBBKB) ini merupakan hasil pajak yang diterima Pemkot Makassar dari Pemprov Sulsel. Sesuai UU No.22 Tahun 2011 pasal 7 ayat 5, rasio jumlah PBBKB adalah 5 persen dari harga BBM per liter. Total PAD Makassar dari pajak jenis ini dari tahun 2012 hingga 2013 adalah Rp 47,5 miliar, melampaui target dicatat Rp 43 miliar dalam APBD Kota Makassar. Target pendapatan tersebut cukup mengherankan, sebab porsinya terbilang jauh lebih rendah dari porsi pendapatan yang rutin diterima. (Tim)R.26

MAKASSAR RAYA : PEMBUNUH MAHASISWI UNM TERANCAM HUKUMAN MATI



HUKUMAN berat menanti Asrul, terdakwa kasus pembunuhan Nur Halima, mahasiswi Universitas Negeri Makassar (UNM). “Sidang perdana yang sejatinya digelar (28/1), terdakwa tidak didampingi penasehat hukum sehingga majelis hakim berpendapat agar sidangnya ditunda,” kata Jaksa Penuntut Umum (JPU) Yusuf SH.
Menurut Yusuf bahwa terdakwa dijerat pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana, subsider pasal 285 KUHP tentang pemerkosaan serta pasal 338 dan pasal 351 ayat 1 ke-3 KUHP, dengan ancaman maksimal hukuman mati.
Asrul ditangkap setelah sehari dalam pengejaran polisi. Pria bertubuh ceking ini diringkus di Bengkel Nusantara Jalan Mattiro Tasi, Parepare, 10 Oktober 2013. Asrul menghabisi nyawa Nur Halima, warga Desa Malino, Kabupaten Gowa, karena sakit hati. Asrul pernah mencurahkan unek-uneknya soal keluarga namun sama sekali tidak digubris oleh korban. Asrul sempat menyetubuhui korban yang sudah dalam keadaan tidak bernyawa. Asrul melakukan itu karena mengaku mendapat bisikan gaib. Asrul menghabisi korban dengan 12 tusukan senjata tajam. Setelah tewas, mayat korban diseret ke dalam kamar mandi.
          Menurut dokter spesialis forensik Rumah Sakit Kepolisian Bhayangkara Dr Mauluddin, korban awalnya ditikam hingga tewas lalu disetubuhi. (Tim)R.26

MAKASSAR RAYA : TERSENGAT LISTRIK 6 PETUGAS PLN TEWAS



DI Kabupaten Gowa ada 6 orang petugas PLN tewas tersengat listrik di tempat kerjanya. Saat itu mereka sedang melakukan pemasangan kabel pada tiang listrik yang terbentang di Kampung Balang Labuang, Kelurahan Romanglompoa, Kecamatan Bonto Marannu, Kabupaten Gowa. Keenam petugas PLN ini tewas seketika setelah tersengat aliran listrik. Peristiwanya terjadi akhir Januari 2014 saat hujan tengah mengguyur lokasi pemasangan kabel listrik. Jenasah keenam korban yang merupakan buruh harian mitra PLN itu dilarikan ke RSU Bhayangkara untuk divisum.

           Daeng Kulle, warga setempat, mengatakan kepada FAKTA bahwa kejadian itu sangat menakutkan dan mengerikan. Kejadiannya hanya sekejap saja dan ke-6 petugas PLN yang tersengat listrik hanya bisa bergoyang-goyang, tidak bisa meninggalkan tempatnya, bahkan tidak bisa berteriak minta tolong, langsung terkapar di tempat. Keenam korban tersebut dalam keadaan luka bakar di sekujur tubuhnya dan saat itu juga aliran listrik di seluruh rumah warga padam. Para korban kemudian dievakuasi oleh petugas Polres Gowa.
Kasubag Humas Polres Gowa, AKP Andry Lilikay, saat dikonfirmasi FAKTA mengatakan bahwa sebelumnya petugas sangat sulit untuk mengidentifikasi masing-masing korban, namun setelah beberapa jam kemudian ke-6 korban itu pun diketahui identitasnya. Mereka adalah Rustam, warga Mamajang, Makassar, Arifuddin (50), warga Suguminasa, Mirwan (28), warga Taeng, Gowa, Wawan (26), warga Taeng, Gowa, Narto (50), warga Jeneponto, dan Salamat (50), warga Mamajang, Makassar. (Tim)R.26

MAKASSAR RAYA : SOPIR PETE-PETE ANCAM BLOKIR BUSWAY



RENCANA Uji Coba Busway atau Bus Rapid Trans (BRT) di Kota Makassar mulai ditentang oleh para sopir Angkutan Kota (Angkot) Petepete di daerah ini. Jika sebelumnya penolakan hanya dilakukan lewat pernyataan semata pada akhir Januari, tapi sekarang sejumlah sopir angkot mulai menggelar aksi nyata. Mereka melakukan demo di Jalan Perintis Kemerdekaan, depan RS Daya Makassar. Dari situ mereka kemudian bergerak menuju pintu satu Unhas, selanjutnya beraksi di bawah jembatan fly over. Bahkan dalam aksi ini, mereka sempat memaksa menurunkan penumpang petepete yang lewat di jalur tersebut, Jalan Andi Pangerang Pettarani, sehingga kemacetan sempat terjadi berjam-jam lamanya.
Kelompok lainnya beraksi di depan RS Daya. Sekitar ratusan sopir angkot petepete trayek Daya yang tergabung dalam Aliansi Sopir Petepete se-Kota Makassar turun ke jalan untuk menyuarakan penolakan diadakannya BRT atau busway di Kota Makassar. Koordinator Aliansi Sopir Petepete se-Kota Makassar, Sahabuddin, mengancam akan memblokir busway apabila benar-benar beroperasi di Kota Makassar. “Kami akan melakukan pemblokiran,” ancam Sahabuddin diamini sejumlah sopir lainnya.
Menurut Sahabuddin, masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan oleh Dinas Perhubungan terkait dengan moda transportasi di Sulsel, khususnya di Kota Makassar. “Selesaikan dulu itu bentor-bentor liar yang ambil penumpang, baru diadakan busway,” katanya.
Ia juga mengaku kehadiran busway akan menghambat jalanan, apalagi kondisi ruas jalan di Kota Makassar sangat sempit. Selain itu busway juga akan mengurangi pendapatan sopir petepete jalanan di Makassar. “Kalau ada busway pasti tambah macet  jalanan ini. Selain itu juga pasti mengurangi pendapatan kami tiap harinya”.
Selain mengecam pengoperasian busway di Kota Makassar, Aliansi Sopir Petepete juga mengancam akan melakukan aksi yang lebih besar lagi, bahkan akan bergabung dengan seluruh sopir petepete dengan semua trayek yang ada di kota Makassar. “Kalau busway tetap beroperasi, kami akan bergabung dengan semua sopir petepete trayek lainnya yang ada di Kota Makassar untuk memblokir busway,” kata Sahabuddin didampingi sejumlah rekannya. Ia juga mengancam akan memboikot Pemilu 9 April 2014. “Kami juga tidak akan memberikan suara kepada para caleg yang bersangkutan dengan pandangan busway ini. Pengadaan busway cenderung dipaksakan oleh pemerintah. Sedangkan pemerintah belum bisa mengatur semua angkutan umum yang ada di Kota Makassar, terutama Kepala Dinas Perhubungan Kota Makassar tidak becus karena bukan bidangnya di Perhubungan”.
            Koordinator Lapangan (Korlap), Muhiddin, mengatakan, sebenarnya busway sangat diharapkan sebagai angkutan masal tapi kondisi jalanannya masih sangat sempit dalam Kota Makassar, kecuali kalau beroperasi dari terminal Kota Makassar ke tujuan Pare-Pare, Palopo dan lain-lain. “Busway belum layak beroperasi di Makassar. Apa yang dilaksanakan oleh instansi-instansi terkait tentang kebijakan busway masih memiliki kekurangan”.
Sementara itu Kasatlantas Polrestabes Makassar, Kompol Yayat, menjelaskan, aspirasi para sopir angkot sementara ditampung karena saat ini sejumlah pejabat tidak berada di tempat, seperti Dinas Perhubungan, Perum Damri dan Gubernur Sulsel. (Tim)R.26

OPINI : MEMILIH ATAU GOLPUT ?


TANGGAL Sembilan April sudah dihadapan mata semua partai politik mulai mencari simpati warga untuk memenangkan pemilihan umum pada perhelatan akbar lima tahunan yang dilaksanakan dinegara Indonesia, banyak cara yang dilakukan oleh partai politik atau CALEG dari masing-masing partai agar mendapatkan kursi sesuai yang ditargetkan, banyak cara yang dilakukan oleh para Caleg maupun  partai salah satunya adalah media baik media massa atau elektronik seperti radio, TV, ini merupakan alat yang paling ampuh menurut sebagian kandidat karena media ini ditonton oleh seluruh masyarakat di seluruh penjuru nusantara.
Di dalam tayangan di salah satu stasiun televisi ada yang menayangkan wawancara warga terkait tentang Pileg 9 April 2014 banyak yang menyatakan tidak tahu karena kurangnya pendekatan  para wakil rakyat yang sudah terpilih pada tahun 2009 lalu sehingga warga trauma dan beranggapan wakil rakyat turun ketika hampir pemilihan setelah selesai selesai juga urusannya (baca : rakyat). Dari ituh dibutuhkan kerja keras dari semua caleg dan para pengurus partai untuk memulihkan kepercayaan rakyat agar langkah golput tidak terus bertambah setiap pimilihan.

Terlepas dari semua itu setiap hari pasti kita milihat tayangan dialog tentang pemilihan umum 9 April mendatang yang dimaksudkan menekan angka golput. Akan tetapi pertanyaannya mampukah media TV untuk menekan angka golput ? Hal ini semuanya bisa terjawab jika para wakil rakyat di parlemen sana tidak tidur, rakyat sekarang sudah pandai dan kritis dibandingkan dulu.

Ada pengalaman yang cukup menarik, biasanya partai melakukan survei polling terhadap masyarakat apakah partainya banyak yang mendukung atau tidak, ini dilakukan untuk mendongkrak perolehan suara dan kursi di parlemen nantinya. Sebut saja partai “X” misalnya yang melakukan survei di bawah dan hasilnya ditayangkan di TV, biasanya cara ini sangat ampuh untuk menarik simpati masyarakat karena orang yang akan memilih partai X tersebut adalah orang-orang yang tahu betul akan platform partai atau minimal tertarik tentang performance simpatik yang selama ini ditunjukkan oleh pendukung dan anggota legislatif partai tersebut, mengapa demikian karena partai tersebut berkampanye sangat elegan dan semua anggota legislatifnya dari pusat sampai daerah jujur dan merakyat. Ada juga sebagian orang memilih partai hanya coba-coba, karena trauma dengan kejadian terhadap partai pemenang pemilu tahun lalu. Sehingga sekarang memilih hanya sekedar mencoba.

Lain dari fenomena  di atas sebenarnya di sini saya tertarik menyoroti  partai Islam dalam pollingnya sekarang barada dalam urutan ketiga bahkan keempat setelah masuknya partai-partai nasionalis kelihatannya partai yang tidak berbasis agama ini mempunyai kader yang militan. Mengapa ? Padahal di Indonesia mayoritas rakyatnya adalah Islam.

Saya jadi ingat dengan apa yang disampaikan oleh ustadzah Irene Handoyo, da’i yang mantan biarawati. Beliau mengatakan jika ummat Islam (baca : Partai Islam) terpecah menjadi lima atau tiga kelompok saja, maka dikawatirkan presiden di Indonesia nanti muncul dari orang-orang ateis atau non muslim. Apa yang dikatakan oleh ustadzah Irene Handoyo hendaknya patut diwaspadai. Hal ini karena non muslim sampai detik ini masih merancang dan melakukan skenario mengajak para muslim untuk ikut ajarannya secara samar.

Pemilu 2014 ini merupakan momen yang sangat strategis untuk mengantisipasi misi non muslim di Indonesia. Artinya, kita harus memanfaatkan pemilu ini sebagai sarana dakwah. Dakwah untuk membangun tatanan Islam membendung pengaruh misionaris di Indonesia. Mengapa ? Karena suara kita sangat diperlukan oleh partai-partai Islam dan caleg-caleg yang memiliki komitmen Islam yang konsisten. (terlepas dari partai politik yang kotor). Apalagi sistem pemilu sekarang yang memberi ruang yang cukup bebas untuk langsung memilih caleg-caleg yang kita inginkan. Jadi ketika ada saudara muslim kita yang kita tahu kapabilitas keislamannya ketika kita tidak memilih ini merupakan suatu kerugian, artinya kita harus memilih sesuai hati nurani dan komitmen dari caleg tersebut, jangan sampai golput. Karena bisa jadi caleg-caleg yang konsisten karena minoritas akhirnya terpengaruh oleh caleg-caleg misionaris.

Kita tidak menafikkan dan menutup mata sistem pemerintahan di tubuh Indonesia masih jauh dari sistem Islam. Maksudnya, tidak salah jika ada kelompok yang mengatakan bahwa pemerintah kita masih belum islami. Akan tetapi pemilu sekarang terfokus pada pemilihan pelaku-pelaku politik di parlemen. Dari sinilah jika presiden dan anggota parlemen kita memiliki komitmen yang baik, berbudi luhur, jujur, tahu benar dan salah, maka dakwah Islam sangat terbantu. Bahkan tidak mustahil sistem Islam akan terwujud jika Presiden dan anggota perlemennya menjalankan tugasnya dengan benar dan jurdil. Bukankah kita kalau tidak bisa berbuat banyak akan tetapi tidak meninggalkannya tetapi membuat sarana untuk menuju ke hal yang lebih baik.

Menghadapi pemilu yang tinggal selangkah lagi kini umat Islam harus benar-benar siap. Maksudnya, siap memilih yang tepat secara teknis dan tepat memilih caleg-calegnya baik di pusat maupun di daerah agar lima tahun ke depan kita tidak sengsara lagi, nasib rakyat diperhatikan, kemiskinan dan pengangguran berkurang seperti yang selama ini menjadi topik utama di tubuh pemerintah. Kita harus meninggalkan kepentingan pribadi atau kepentingan golongan di atas kepentingan agama. Jangan gara-gara perbedaan golongan/partai/harakah kita lalu berpaling dan memilih partai-partai yang  justru memihak kelompok  non muslim atau mungkin golput. Saya kira dalam pemilu nanti masih banyak caleg/dan capres kita yang punya komitmen atau minimal punya kepedulian terhadap agama. Dengan demikian sarana menuju pembelaan agama di Indonesia semakin kuat dan kompak. Ingat bagaimana anggota perlemen muslim kita yang cukup kompak walaupun dari baragam partai untuk menggolkan RUU di Senayan sana ? Mudah-mudahan anggota parlemen dan presiden yang terpilih dari hasil pemilu nanti bisa menggolkan dan membumikan hukum dan sistem Islam di Indonesia. Hal ini tentunya jika anggota legislatif dan presiden yang kita pilih punya pemahaman Islam yang kaffah dan bukannya para islamolog an sich. Wallahua’alm bissahawab.

Oleh :










Saedi
Kepala MDT Nurul Jadid, Guru MTs Mishbahul Ula PKM Kurikulum MI Nurul Jadid
Juruan Daya RT 02/07, Batuputih, Sumenep, Madura, Jawa Timur
HP. 081946786570 / 082333756901