Thursday, April 3, 2014

PERISTIWA : UJIAN PERADI DI SURABAYA, PESERTA 525 LULUS 128

MENJELANG akhir Maret 2014, ribuan peserta PKPA (Pendidikan Khusus Pengacara & Advokat) yang telah mengikuti ujian advokat, melototi semalam suntuk situs Peradi. Bisa dimaklumi, karena pengumuman kelulusan dijadwalkan dinihari Jum’at, tanggal 21 Maret 2014. Dimaklumi juga karena pengumuman kelulusan dilakukan serentak di dua belas kota di Indonesia. Di antaranya, Jakarta, Yogyakarta, Semarang, Banjarmasin, Palembang dan Surabaya.
Khusus di Surabaya, sebelum hari “H” ujian telah diselenggarakan try out (pelatihan) dua kali. Pertama, di Unitomo, dan kedua, di Ubaya, dengan menyisihkan biaya yang relatif murah. “Kita-kita ini kan belum menjalankan praktek sebagai advokat, maka Panitia Ujian Peradi juga mengerti tentang biaya try out,” kata salah seorang peserta try out yang diketahui bernama Jefry Nicolas Simatupang SH MH (CD).
Pria berkulit kuning kelahiran Surabaya ini mengaku bahwa sebenarnya ia ingin mengikuti ujian pengacara/advokat beberapa tahun silam ketika dirinya sudah menyandang S1 Sarjana Hukum.  Akan tetapi, tuturnya, umur belum mencapai 25 tahun yang menjadi persyaratan menjadi advokat. “Meskipun lulus, tidak boleh mengikuti sumpah karena belum cukup umur,” ungkap Jefry yang ditempel ketat oleh wanita bertubuh langsing. Jefri mengaku wanita di sebelahnya adalah CP (calon pendamping) seumur hidup yang bakal dinikahinya September 2014 nanti.
Sambil menunggu umur 25 tahun, Jefri mengambil program S2 di Ubaya dan kini sudah menyusun tesis berjudul “Alat Bukti Elektronik Sebagai Alat Bukti Yang Berdiri Sendiri Dalam Hukum Acara Pidana Di Indonesia”. Dijelaskannya bahwa sebagai “alat bukti yang berdiri sendiri” karena dalam TPPU (Tindak Pidana Pencucian Uang) bahwa alat bukti elektronik masuk kategori alat bukti lain. Akan tetapi, dalam tindak pidana korupsi;”Alat Bukti Elektronik” masuk kategori sebagai petunjuk saja. “Itu akan merugikan terdakwa,” tandas Jefri yang menjelaskan bahwa tindak pidana pencucian uang (TPPU) adalah awal tindak pidana korupsi.  Dengan demikian tidak ada kejelasan antara alat bukti elektronik pada TPPU dengan tindak pidana korupsi. “Saya memperjelas saja dalam tesis tersebut,” tandas Jefri yang sebelum ujian Peradi sudah magang di advokat senior, Dr Ir H Yudiwibowo Sukinto SH MH.
Diakuinya bahwa Dr Yudiwibowo ikut andil atas kelulusannya. Sebab Yudi selalu memberi masukan-masukan berharga jauh sebelum ujian dilaksanakan.  Tidak ada salahnya, kata Jefri,  jika Dr Yudi dianggap sebagai Guru Besarnya. “Saya ini angkatan ke-7 magang di Kantor Advokat Yudiwibowo & Partner.      Angkatan pertama hingga angkatan ke-7 selalu lulus dalam ujian Peradi. Alhamdulillah tidak ada yang mengulang,” tutur Jefri yang bersyukur kepada Tuhan, berterima kasih kepada kedua orangtua, kepada Advokat Dr Ir H Yudiwibowo Sukinto SH MH dan berterimakasih kepada Felyana Yunita SH MKn (CD), sang kekasih yang selalu memberi support ketika dia menempuh ujian Peradi.
Perlu dicatat  bahwa lulusnya Jefri dalam ujian Peradi juga tidak lepas dari membaca buku panduan yang dibeli di sebuah toko buku kondang berjudul “Kiat Sukses Menghadapi Ujian Advokat”, selain belajar relatif lama, bukan belajar dadakan. Apalagi mendapat bimbingan dari seniornya di tempat ia magang.

Perlu dicatat pula bahwa usai dilantik dan disumpah sebagai profesi Advokat bersama 127 peserta lainnya, ada dua agenda yang harus dilakukan oleh Jefry. Yakni, membukukan tesisnya di sebuah penerbit di Jakarta dan mempersiapkan diri ikut bursa pencalonan Bupati Sidoarjo tahun 2015 mendatang. “Bukan dari partai mana pun juga akan tetapi dari jalur independen saja,” tegasnya santai namun serius. (Tim)R.26   
Yunita SH MKn (CD) dan Jefry Nicolas Simatupang SH MH (CD)

No comments:

Post a Comment